ADAB-ADAB BAGI SEORANG DA’I ILALLAH (1)

Oleh Syaikh Muhammad bin Hasan bin ‘Abdirrahman Alu asy-Syaikh (Anggota Hai’ah Kibaril Ulama & Lajnah Da’imah lil Ifta)
Pendahuluan
Dakwah ke jalan Alloh Ta’ala merupakan ketaatan yang paling mulia dan qurobah (pendekatan diri/ibadah) yang paling agung. Dakwah merupakan seutama-utama pergerakan yang mengarahkan semangat yang tinggi dan kemauan yang kuat, sebagaimana firman Alloh Ta’ala :
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS Fushshilat : 33)
Alloh pun juga telah menyediakan bagi (orang yang) berdakwah, ganjaran yang besar dan pahala yang berlimpah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :
من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه دون أن ينقص من أجورهم شيء
Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala orang yang mengikutinya tersebut sedikitpun.” (HR Muslim).
Berdakwah ke jalan Alloh merupakan jalannya para nabi dan rasul, dan jalannya orang-orang yang mengikuti mereka dari para ulama dan para du’at yang mushlihin (reformis/melakukan perbaikan). Alloh Azza wa Jalla bahkan telah memilih makhluk pilihan-Nya untuk berdakwah, yang Alloh sifati sebagai makhluk-Nya yang paling mulia serta nabi dan rasul-Nya yang paling utama, yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam, di dalam firman-Nya :
وداعياً إلى الله بإذنه وسراجاً منيراً
Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (QS al-Ahzab : 46)
Wajib bagi para da’i yang berdakwah di jalan Alloh
, agar berhias dengan adab-adab yang dapat menghantarkan dakwahnya kepada kesuksesan, dan diantara adab-adab tersebut adalah :
Pertama : Ikhlas di dalam dakwah
Ikhlas di dalam dakwah ke jalan Alloh Azza wa Jalla merupakan adab yang paling agung dan merupakan esensi dakwah serta merupakan pondasi keberhasilan amal dakwah. Dakwah ke jalan Alloh adalah ibadah untuk bertaqorrub (mendekatkan diri) kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya suatu ibadah. Alloh Ta’ala berfirman :
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus. (QS al-Bayyinah : 5)
Maka wajib bagi setiap da’i supaya mengikhlaskan dakwahnya hanya kepada Alloh, janganlah ia beramal atas dasar riya’ (pamer agar dilihat orang) dan sum’ah (pamer agar didengar orang), dan jangan pula untuk mengambil dunia dan reruntuhan yang fana (tidak kekal) lagi akan lenyap. Namun hendaklah lisannya senantiasa mengucapkan :
قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ
Katakanlah: Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah.” (QS al-Furqon : 57)
Maka janganlah ia di dalam dakwahnya mencari bagian (harta), kedudukan dan jangan pula syuhroh (popularitas), namun wajib baginya beramal hanya mengharapkan wajah Alloh Ta’ala semata.
Kedua : Ilmu
Wajib bagi para da’i untuk menuntut ilmu yang bermanfaat, yang diwariskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Hendaklah ia berdakwah di atas bashiroh (keterangan yang jelas), karena Alloh berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia :
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS Yusuf : 108)
Alloh sendiri telah menetapkan di dalam kitab-Nya yang mulia tentang pentingnya bagi para du’at untuk mempelajari ilmu syar’i, sebagaimana dalam firman-Nya Ta’ala :
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS at-Taubah : 122)
Apabila Ilmu syar’i itu wajib bagi setiap muslim, hanyasaja kewajibannya lebih ditekankan dan diharuskan lagi bagi da’i, dikarenakan perkaranya tidak dikhususkan hanya melulu kepadanya, namun juga kembali kepada selainnya. Oleh karena itu, seorang haruslah berupaya memahami tingkatan yang memadai tentang hakikat Islam dan hukum-hukum syariat, sehingga manusia menjadi yakin dengan ilmunya dan menerima dakwahnya.
……….Bersambung insya ALLAH…………..
Sumber : ”Harian Jazirah” hari Selasa, 7 rajab 1427 / 1 Agustus 2006, no. 12360. http://www.al-jazirah.com/2486510/fe18d.htm Penerjemah Abu Salma Al-Atsary

Komentar